Home Artikel NAHDLATUL WATHAN DAN IDENTITAS KE-NAHDLHATUL WATHAN-AN: MENGINGAT IDENTITAS DIRI DALAM NAHDLATY

NAHDLATUL WATHAN DAN IDENTITAS KE-NAHDLHATUL WATHAN-AN: MENGINGAT IDENTITAS DIRI DALAM NAHDLATY

4
0

Tulisan tentang identitas ke-NW-an ini, al-Faqier memulai dengan Wasiat MAULANASSYAIKH, semata-mata tabarrukan kepada Allah SWT, agar seluruh Warga NW tetap mengenang dan mempertahankan identitas ke-NW-annya dalam setiap ruang dan waktu:
ADUH SAYANG!
Sudah masanya ‘nakda berbakti.
Membela NW sepenuh hati.
Melihara NW sepenuh bukti.
Menanam jiwa disiplin sejati. (WRS. No. 24. h. 94).
ADUH SAYANG!
Mari bersatu di satu barisan.
Janganlah suka berkeliaran.
Tetap bersatu bersama Ikhwan.
Menurut pimpinan Nahdlatul Wathan. (WRM. No. 25.h. 96).
ADUH SAYANG!
Tetapkan dirimu bersama Ikhwan.
Bersama pembela NAHDLATUL WATHAN.
Jangan selalu mendengar ocehan.
” SUARA ORANG DI PINGGIR JALAN”.(WRM. No.26. h. 96)
Identitas Ke-Nahdhatul Wathan-an yang diajarkan oleh pendiri NWDI NBDI dan NW secara umum dapat dielaborasikan menjadi beberapa point penting:
Pertama : IDENTITAS KELEMBAGAAN NW.
Salah satu inovasi dan improvisasi yang dilakukan oleh beliau TGKH.M. Zainuddin Abdul Madjid adalah meletakkan identitas lembaga pendidikan di bawah naungan organisasi Nahdhatul Wathan dengan lebel “NW“ seperti Yayasan Perguruan NW mulai dari tingkat paling rendah sampai jenjang yang paling tinggi, seperti TK NW, SD NW, MI NW, MTs NW, MA NW/SMA NW dan STKIP NW, IAIN NW, UNIV NW.
Identitas dengan penegasan lebel “NW“ dilembaga pendidikan memberikan nilai filosofis sebagai berikut:

  1. Peneguhan eksistensi kelembagaan sebagai barisan yang tidak terpisahkan dengan organisasi NW
  2. Penegasan akan identitas kelembagaan yang secara aplikatif bergantung kepada organisasi NW
  3. Pola pembinaan yang koordinatif dengan organisasi NW yang secara tegas menunjukkan identitas kelembagaannya.
  4. Mempermudah pola komunikasi dan jaringan koordinasi pembinaan yang dilakukan oleh pengurus organisasi NW mulai dari Pengurus Besar sampai Pengurus Ranting.
    Adanya identitas mempermudah pembinaan dan pemberdayaan dalam segala lini oleh pemangku kebijakan di tingkat organisasi NW. Hemat penulis hanya organisasi NW yang memberikan lebel langsung di setiap lembaga kependidikan maupun lembaga sosial, ekonomi dan seterusnya.
    Jadi, identitas ke-NW-an pada setiap lembaga pendidikan, sosial, ekonomi, budaya memberikan makna penegasan terhadap ruh perjuangan ke-NW-an bagi lembaga dan pengelolanya.
    KEDUA : IDENTITAS NW PADA ASPEK ADMINISTRATIF.
    Di Organisasi NW ada Identitas ke-NW-an yang harus difahami sebagai atribut ke-NW-an yang terlihat pada aspek-aspek berikut ini :
    A).Aspek surat-menyurat.
    Dalam surat menyurat, identitas NW yang termaktub kata : Bismillahi Wabihamdihi (بسم الله وبحمده ) filosofisnya adalah memulai tulisan dengan menulis basmalah dan hamdalah merupakan ajaran Normatif Agama yang menganjurkan memulai hal-hal yang positif dengan memohon izin kepada Allah swt.
    TGKH.M. Zainuddin Abdul Madjid memperkenalkan sistem penulisan awal surat-menyurat sebelum salam dengan singkatan dengan tidak menulis lengkap dengan BismillahirrahmanirrahimnAl-hamdulillahi rabbil ‘Alamin. Dengan memberikan nilai ajaran yang luhur bahwa jika surat yang diawali dengan lafaz basmalah dengan sempurna dikhawatirkan kertas yang tertulis lafaz basmalah akan dibuang-buang di tempat yang tidak terhormat atau diinjak-injak orang. Hal itu bisa mencederai kehormatan dan kesucian lafaz-lafaz Al-qur’an.
    Mengakhiri surat menyurat dengan redaksi:
    والله الموفّق والهادي إلى سبيل الرّشاد
    والسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    Identitas ke-NW-an seperti ini membuktikan ciri khas surat menyurat yang berbeda dengan organisasi-organisasi keislaman yang lain.
    2) Setiap surat harus termaktub logo atau logo yayasan NW dan ditandatangani sekaligus dicap stempel dengan stempel logo Nahdhatul Wathan.
    KETIGA: IDENTITAS NW PADA ASPEK RETORIKA PIDATO/CERAMAH KEAGAMAAN.
    Identitas ke-NW-an seseorang biasa terlihat pada saat menyampaikan ceramah, pidato atau bicara di khalayak publik, antara lain :
    1). Mengawali dengan lafaz Al-hamdulillah (الحمد لله) bukan redaksi innal hamda Lillah (إنّ الحمد لله)
    2). Dalam berpidato selalu diselangi dengan Do’a Islahul Ummah
    اللّهمّ أصلح أمّة محمّد صلّى الله عليه وسلّم
    وفرّج عن أمّة محمّد صلّى الله عليه وسلّم
    وارحم أمّة محمّد صلّى الله عليه وسلّم
    وانشر واحفظ وأيّد نهضة الوطن فى العالمين بحقّ محمّد صلّى الله عليه وسلّم
    3). Sering menyebut-nyebut keistimewaan dan keutamaan Nahdhatul Wathan, khususnya Pendiri NW-NBDI dan NWDI.
    KEEMPAT : IDENTITAS ke-NW-an DALAM KEGIATAN HARI BESAR KEAGAMAAN.
    NW sangat identik dengan atribut-atribut ke-NW-an yang tidak terlihat di organisasi yang lain. Atribut-atribut tersebut terlihat pada aspek-aspek berikut :
    1). Setiap pengajian umum, pengajian pengurus besar, Pengajian tuan Guru-Tuan Guru Nahdhatul Wathan diawali dengan Pembacaan Fatihah-Fatihah yang secara spesifik menyebut langsung :
    Pertama: kepada Nabi dan Karabatnya.
    Kedua: kepada pendiri NW-NWDI dan NBDI secara khusus dan kepada seluruh Pencinta.
    Ketiga: kepada para ulama’, guru, orang tua dan kaum muslimin.
    Keempat: kepada organisasi NW untuk tetap jaya, eksis dan populer sepanjang masa dan bahkan di semesta alam.
    2). Pembacaan shalawat Nahdhatain dalam segala rangkaian kegiatan ke-Nahdhatul Wathan-an dan biasanya warga Nahdhiyyin membaca shalawat Nahdlatain secara bersamaan-serentak.
    3). Penutupan kegiatan keagamaan dengan membaca Do’a Pusaka (Rabbananfa’na), pembacaan doa pusaka ini dibaca bersama-sama yang dipimpin oleh salah seorang Tuan Guru atau para asatiz.
    KELIMA: IDENTITAS NW DALAM ASPEK IDEOLOGI DAN FALSAFAH.
    Orang-orang yang disebut dengan orang-orang yang mengikuti Ajaran dan Khittah Perjuangan Nahdhatul Wathan terlihat pada faham ideologi yang dianut dan diyakininya, antara lain terlihat pada :
    1). Faham Ideologi Keagamaan pada aspek Syari’ah NW.
    Sesuai AD/ART NW dan Wasiat TGKH.M. Zainuddin Abdul Madjid bahwa faham keagamaan dalam aspek syari’ah berdasarkan satu Mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu Imam Syafi’i Radhiyallahu Anhu.
    2). Faham dalam aspek teologi bersumber pada Teologi ASWAJA Ahlussunnah Waljama’ah yaitu Teologi Imam Asy-syafi’i dan Imam Al-Maturidi.
    3). Faham Sufistik warga NW tercermin pada faham Sufisme Syaikh Abdul Al-Jaelani dan Syaikh Hijjatul Islam Imam Al-Ghazali.
    Sedangkan falsafah kehidupan warga Nahdhatul Wathan tercermin pada prilaku kehidupan yang selalu berorientasi pada Ridha dan Tuntunan Ilahi dan Bimbingan Nabi Muhammad saw.
    KEENAM : IDENTITAS NW PADA ASPEK KESENIAN.
    Di kalangan warga Nahdhiyyin terlihat jelas pada aspek lagu-lagu yang sering didendangkan dan disosialisasikan. Ada sekitar 20 Lagu atau Nasyid yang ditulis oleh TGKH.M. Zainuddin Abdul Madjid yang sangat dianjurkan untuk disosialisasikan kepada masyarakat.
    Lagu-lagu ke-NW-an menjadi pembeda yang jelas dengan orang-orang yang bukan warga NW yang identik dengan lagu-lagu perjuangan yang disenandungkan oleh pendiri organisasi NW, NBDI dan NWDI.
    KETUJUH: IDENTITAS KE-NW-AN PADA ASPEK TATA BUSANA.
    Ciri khas yang terlihat pada warga Nahdhatul Wathan pada aspek busana adalah payang kaian yang sopan, rapi, islami dan tentu menutupi aurat. Namun ada khas pada pakaian Tuan Guru NW yang memakai jubah, sorban, selendang hijau (warna lambang NW ) atau pakai sarung surban, peci hitam dan seterusnya.
    Pakaian-pakaian ini memberikan gambaran akan identitas Nahdhatul Wathan yang positif untuk dilestarikan dan dikembangkan.
    EPILOG:
    Identitas NW: Berbakti. Sepenuh Hati. Disiplin Sejati. Identitas NW: Bersatu haluan.Taat Pimpinan.
    Kompak utuh bersatu haluan.
    Istiqomah ikhlas kepada Tuhan.
    Itu amanah Maulana al-Hasan.
    Kepada warga NAHDLATUL WATHAN. (WRS.No.129 H. 51).
    Bagi yang tunduk pada Nasihat.
    Memegang teguh pada amanat.
    Memegang teguh pada wasiat.
    Dhahir bathinnya penuh berkat.
    (WRS. No.130.h.51).
    سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد.
    (Edisi 28 Ramadhan Mubarak 1442 H/Senin 10 Mei 2021 M. Edisi mengingat identitas diri dalam Nahdhati, semoga menjadi perenungan untuk warga NAHDLATUL WATHAN di mana saja berada.)
    Tak ada nawaitu itu dan ini, Semata-mata tugas sebagai Sekjend PB NW untuk mengingatkan semua warga Nahdlatul Wathan untuk tetap setia dan berbakti).
    Tabik Walar.
    Nunas Nugrehe.
    Dewek Al-Faqier,
    Abu El-roziqiena

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here